MAKALAH
PENGANTAR LINGKUNGAN HIDUP
PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA
DISIUSUN
OLEH :
NAMA : Nugraha Ibnu Susanto
NPM :
15415151
KELAS:2IB02
FAKULTAS
TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN
TEKNIK ELEKTRO
UNVERSITAS
GUNADARMA
2015
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat,hidayah, dan inayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah “PERKEMBANGAN PENDUDUK INDONESIA” ini. Makalah ini kami susun dengan maksimal
dan mendapatkan bantuan dari beberapa pihak sehingga dapat memperlancar makalah
ini.Untuk itu saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.Terlepas itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya.Oleh karena
itu dengan tangan terbuka saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar saya dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata saya juga mengucapkan
terima kasih kepada Bpk Andi Asnur Pranata yang telah menugaskan saya membuat
makalah ini.
Demikian makalah ini saya buat, semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi kita semua.
Wassalamuaikum Wr.Wb
Bogor,31
Oktober 2016
Nugraha ibnu susanto
BAB I
PENDAHULUAN
Laju
pertumbuhan penduduk merupakan permasalahan krusial yang dihadapi oleh
negara-negara berkembang di dunia, khususnya negara-negara berpenduduk besar
dan padat sperti Indonesia. Indonesia sebagai suatu negara yang sedang
berkembang dengan penduduk terbesar nomor empat di dunia,.
Pertumbuhan
penduduk di Indonesia senantiasa mengalami peningkatan.Hal ini tercermin dari
hasil sensus penduduk 2010, Indonesia menunjukkan gejala ledakan penduduk.
Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 tercatat 237,6 juta jiwa dengan laju
pertumbuhan 1,49 persen pertahun, sementara pada tahun 2008 masih tercatat
288,53 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk ini jika tetap pada angka itu, pada
2045 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 450 juta jiwa. Peningkatan
penduduk yang tinggi ini akan mengakibatkan permasalahan jika tidak
dikendalikan (BKKBN, 2010).
Definisi dari
laju pertumbuhan penduduk itu sendiri adalah Angka yang menunjukan tingkat
pertambahan penduduk pertahun dalam jangka waktu tertentu.Angka ini dinyatakan
sebagai persentase dari penduduk dasar.Laju pertumbuhan penduduk dapat dihitung
menggunakan tiga metode, yaitu aritmatik, geometrik, dan eksponesial.Metode
yang paling sering digunakan di BPS adalah metode geometrik.
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah agar kita dapat memahami bagaimana laju
perkembangan pertumbuhan penduduk di Indonesia saat ini serta dampak dari
pertumbuhan penduduk itu terhadap berbagai bidang
Adapun analisis masalah yang akan
dibahas pada makalah kali ini sebagai berikut:
a. Landasan Perkembangan
Penduduk Indonesia
b. Pertambahan Penduduk
dan Lingkungan Pemukiman
c. Pertumbuhan Penduduk
dan Tingkat Pendidikan
d. Petumbuhan Penduduk dan
Penyakit yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup
e. Pertumbuhan Penduduk
dan Kelaparan
f. Kemiskinan dan
Keterbelakangan
BAB II
PEMBAHASAN
Pertumbuhan penduduk adalah
perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam
jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan "per waktu unit"
untuk pengukuran.Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi
selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk
sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada
perubahan penduduk dunia.
Maka yang melandasi perkembangan
penduduk di Indonesia adalah banyaknya kelahiran di bandingkan dengan kematian
dan banyaknya imigran dari desa ke kota yang menumpuknya manusia di kota dan
sedangkan yang di desa berkurang. Banyaknya imigran dari desa ke kota
dikarenakan dikitnya atau kurangnya lapangan pekerjaan dibandingkan dengan di kota-kota
yang membuat orang desa mencari makan di kota dan menyebabkan banyaknya atau
menumpuknya orang di kota.
Perkembangan penduduk di Indonesia
dikarenakan banyaknya atau meningkatnya data kelahiran per hari di bandingkan
data kematian per hari yang mengakibatnya banyaknya kehidupan tidak sebanding
banyaknya kematian yang mengakibatkan penumpukan atau pertambahan penduduk di
Indonesia semakin tahun semakin bertambah
Hasil sensus penduduk 2010 tercatat
237,6 juta jiwa sebagai bukti pertumbuhan penduduk Indonesia 5 tahun lebih
cepat dari proyeksi BPS. Karena proyeksi semula, tahun 2010 baru berjumlah
234,2 juta dan tahun 2015 berkisar 237,8 juta jiwa. Kenyataannya, tahun 2010
penduduk Indonesia sudah mencapai 237,6 juta jiwa.
"Pengnedalian penduduk harus menjadi
prioritas. Apalagi kesehatan dan usia harapan hidup meningkat sehingga tanpa
pengendalian rawan terjadi ledakan jumlah penduduk. Jumlah penduduk 237,6 juta
mendekati proyeksi BPS untuk jumlah penduduk tahun 2015 yakni 237,8 juta jiwa.
Angka itu sudah tercapai sekarang. Dengan melencengnya proyeksi itu, jumlah
penduduk diperkirakan 264,4 juta tahun 2015," ujar dia.
Pemerintah mempunyai target baru.
Pada 2014 ditargetkan angka fertilitas total (angka kelahiran/TFR) 2,1 dan
pengguna kontrasepsi 65 persen. Saat ini TFR 2,3 dan pengguna kontrasepsi 61,4
persen. Selain itu ditargetkan empat tahun ke depan 'unmeet need' 5 persen dan
usia kawin pertama 21 tahun.
Penataan ruang tidak lagi semata
menjembatani kepentingan ekonomi dan sosial.Lebih jauh dari kedua hal itu
(ekonomi dan sosial), penataan ruang telah berubah orientasinya pada aspek yang
benar-benar berpihak untuk kepentingan lingkungan hidup, sebagai konsekuensi
keikut-sertaan Indonesia pada upaya menekan pemanasan global. Dalam UU No. 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, telah ditegaskan mengenai tujuan
penyelenggaraan penataan ruang yaitu mewujudkan ruang wilayah nasional yang
aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan, serta menciptakan keharmonisan
antara lingkungan alam dan lingkungan buatan.
Keterpaduan dalam penggunaan sumber
daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia;
serta perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Penataan ruang yang berpihak pada
lingkungan hidup perlu ditegakkan bersama karena sebelumnya, logika penataan
ruang yang hanya mengikuti selera pasar, dalam kenyataan telah mengancam
keberlanjutan. Hal ini dapat dicermati dari keberadaan lahan-lahan produktif
dan kawasan buffer zone berada dalam ancaman akibat konversi lahan secara
besar-besaran untuk kepentingan penyediaan lahan yang mempunyai land rent
tinggi seperti peruntukan lahan untuk permukiman, industri, perdagangan serta
pusat-pusat perbelanjaan. Diperkirakan sekitar 15 ribu – 20 ribu ha per tahun
lahan pertanian beririgasi beralih fungsi menjadi lahan non pertanian, serta
tidak sedikit kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) terdegradasi. Berdasarkan data
(Bappenas, 2002) terdapat sekitar 62
Daerah Aliran Sungai (dari 470
Daerah Aliran Sungai) terdegradas akibat dari penebangan hutan yang tidak
terkendali dari hulu sungai. Tekanan lingkungan lainnya adalah menyangkut laju
urbanisasi yang akan tumbuh sekitar 4,4 persen per tahun. Oleh karena itu
diperkirakan, pada tahun 2025 nanti terdapat sekitar 60 persen penduduk
Indonesia (167 juta orang) berada di perkotaan. Bila penataan ruang tidak
mengikuti logika pembangunan keberlanjutan, maka dapat dipastikan bahwa
kota-kota besar yang telah berkembang saat ini akan selalu berada tekanan
social yang sangat tinggi. Dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan
penduduk yang cepat dapat berdampak kepada meningkatnya kepadatan penduduk,
sehingga menyebabkan ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh.
Menurut Soemarwoto (1991:230-250) bahwa secara rinci dampak kepadatan penduduk
sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian
lingkungan adalah sebagai berikut:
(1) Meningkatnya limbah
rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik. Dengan naiknya kepadatan
penduduk berarti jumlah orang persatuan luas bertambah.Karena itu jumlah
produksi limbah persatuan luas juga bertambah.Dapat juga dikatakan di daerah
dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
(2) Pertumbuhan penduduk
yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang melahirkan
industri dan sistem transport modern. Industri dan transport menghasilkan
berturut-turut limbah industri dan limbah transport. Di daerah industri juga
terdapat kepadatan penduduk yang tinggi dan transport yang ramai. Di daerah ini
terdapat produksi limbah domsetik, limbah industri dan limbah transport.
(3) Akibat pertambahan
penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Kenaikan kebutuhan
pangan dapat dipenuhi dengan intensifikasi lahan pertanian, antara lain dengan
mengunakan pupuk pestisida, yang notebene merupakan sumber pencemaran. Untuk
masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian, maka seiring
dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan lahan pertanian juga akan
meningkat. Sehingga ekploitasi hutan untuk membuka lahan pertanian baru banyak
dilakukan.Akibatnya daya dukung lingkungan menjadi menurun.Bagi mereka para
peladang berpindah, dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang sedemikian
cepat, berarti menyebabkan tekanan penduduk terhadap lahan juga meningkat.
Akibatnya proses pemulihan lahan mengalami percepatan. Yang tadinya memakan
waktu 25 tahun, tetapi dengan semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap
lahan maka bisa berkurang menjadi 5 tahun.Saat dimana lahan yang baru
ditinggalkan belum pulih kesuburannya.
(4) Makin besar jumlah
penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya. Untuk penduduk agraris,
meningkatnya kebutuhan sumber daya ini terutama lahan dan air. Dengan
berkembangnya teknologi dan ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain juga
meningkat, yaitu bahan bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan makin
meningkatnya kebutuhan sumber daya itu, terjadilah penyusutan sumber
daya.Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran.Makin besar
pencemaran sumber daya, laju penyusunan makin besar dan pada umumnya makin
besar pula pencemaran.
Suatu wilayah dengan pertambahan
penduduk yang pesat dapat menyebabkan masalah- masalah pendidikan,
pengangguran, kesenjangan sosial dan masalah-masalah lainnya.Dengan jumlah
penduduk yang besar maka fasilitas-fasilitas sosial, pendidikan dan pekerjaan
juga ikut meningkat. Jika penduduk di suatu kota yang padat tidak terpenuhi
fasilitas pendidikannya maka akan menyebabkan penurunan tingkat pendidikan
wilayah tersebut. Tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan pengangguran
sehingga dampak pada tingkat perekonomian juga memburuk.Jika masalah ini terus
diabaikan maka kemerosotan negara tidak dapat dihindari.Tingkat pendidikan yang
buruk dapat menyebabkan anak-anak mengalami depresi.Hal ini memicu terjadinya
pekerjaan-pekerjaan yang tidak layak dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Bahkan
dampak lain dari masalah ini bisa menyebabkan tingkat tindakan kriminal yang
dilakukan anak-anak meningkat.
Generasi muda dan anak-anak yang
cerdas adalah kunci kemajuan suatu negara. Jika masa kanak-kanak mereka diisi
dengan hal-hal negatif maka jalan menuju kesuksesan bangsa akan semakin jauh.
Penduduk merupakan pelaku pembangunan. Maka kualitas penduduk yang tinggi akan
lebih menunjang laju pembangunan ekonomi. Usaha yang dapat dilakukan adalah
meningkatkan kualitas penduduk melalui fasilitas pendidikan, perluasan lapangan
pekerjaan dan penundaan usia kawin pertama. Di negara-negara yang anggaran
pendidikannya rendah, biasanya menunjukkan angka kelahiran yang tinggi. Tidak
hanya persediaan dana yang kurang, tetapi komposisi usia secara piramida pada
penduduk yang berkembang dengan cepat juga berakibat bahwa rasio antara guru
yang terlatih dan jumlah anak usia sekolah akan terus berkurang.
Negara Indonesia merupakan negara
yang sedang berkembang sehingga untuk melaksanakan pembangunan dalam segala bidang
belum dapat berjalan dengan cepat, karena kekurangan modal maupun tenaga tenaga
ahli/ terdidik, Akibatnya fasilitas secara kualitatif dalam bidang pendidikan
masih terbatas.Pertambahan penduduk yang cepat, lepas daripada pengaruhnya
terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan, cenderung untuk menghambat
perimbangan pendidikan. Kekurangan fasilitas pendidikan menghambat program
persamaan atau perimbangan antara pedesaan dan kota, dan antara bagian
masyarakat yang kaya dan miskin. Oleh karena itu, masyarakat dalam mencapai
pendidikan yang tinggi masih sedikit sekali. Hal ini disebabkan karena :
a. Tingkat kesadaran
masyarakat untuk bersekolah rendah.
b. Besarnya anak usia
sekolah yang tidak seimbang dengan penyediaan sarana pendidikan.
c. Pendapatan perkapita
penduduk di Indonesia rendah sehingga belum dapat memenuhi Kebutuhan hidup
primer, dan untuk biaya sekolah.
Dampak yang ditimbulkan dari
rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah:
1. Rendahnya penguasaan
teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju.
Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar,
tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam
pembangunan.
2. Rendahnya tingkat pendidikan
mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini nampak
dengan ketidak mampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar,
sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat
memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan
menghambat jalannya pembangunan.
Pengaruh daripada dinamika penduduk
terhadap pendidikan juga dirasakan pada keluarga.Penelitian yang dilakukan pada
beberapa negara dengan latar belakang budaya yang berlainan menunjukkan bahwa
jika digabungkan dengan kemiskinan, keluarga dengan jumlah anak banyak dan
jarak kehamilan yang dekat, menghambat perkembangan berfikir anak-anak,
berbicara dan kemauannya, di samping kesehatan dan perkembangan fisiknya.Kesulitan
orang tua dalam membiayai anak-anak yang banyak, lebih mempersulit masalah ini.
Helen Callaway, seorang ahli antropologi Amerika yang mempelajari masyarakat
buta huruf, menyimpulkan bahwa perkembangan ekonomi dan perluasan pendidikan
dasar telah memperluas jurang pemisah antara pria dan wanita. Hampir di mana –
mana pria diberikan prioritas untuk pendidikan umum dan latihan – latihan
teknis.Mereka adalah orang – orang yang mampu menghadapi tantangan – tantangan
dalam dunia.Sebaliknya pengetahuan dunia di tekan secara tajam pada tingkat
yang terbawah.
Kemampuan manusia untuk mengubah
atau memoditifikasi kualitas lingkungannya tergantung sekali pada taraf sosial
budayanya.Masyarakat yang masih primitif hanya mampu membuka hutan secukupnya
untuk memberi perlindungan pada masyarakat.Sebaliknya, masyarakat yang sudah
maju sosial budayanya dapat mengubah lingkungan hidup sampai taraf yang
irreversible. Perilaku masyarakat ini menentukan gaya hidup tersendiri yang
akan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan yang diinginkannya mengakibatkan
timbulnya penyakit juga sesuai dengan prilakunya tadi. Dengan demikian eratlah
hubungan antara kesehatan dengan sumber daya social ekonomi.WHO menyatakan
“Kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental dan sosial
serta bukan hanya merupakan bebas dari penyakit”.Dalam Undang Undang No. 9
Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Dalam Bab 1,Pasal 2 dinyatakan bahwa
“Kesehatan adalah meliputi kesehatan badan (somatik),rohani (jiwa) dan sosial
dan bukan hanya deadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan”.
Definisi ini memberi arti yang sangat luas pada kata kesehatan.
Keadaan kesehatan lingkungan di
Indonesia masih merupakan hal yang perlu mendapaat perhatian, karena
menyebabkan status kesehatan masyarakat berubah seperti: Peledakan penduduk,
penyediaan air bersih, pengolalaan sampah,pembuangan air limbah penggunaan
pestisida, masalah gizi, masalah pemukiman, pelayanan kesehatan, ketersediaan
obat, populasi udara, abrasi pantai,penggundulan hutan dan banyak lagi
permasalahan yang dapat menimbulkan satu model penyakit. Jumlah penduduk yang
sangat besar 19.000 juta harus benar-benar ditangani masalah.pemukiman sangat
penting diperhatikan.Pada saat ini pembangunan di sektor perumahan sangat
berkembang, karena kebutuhan yang utama bagi masyarakat. Perumahan juga harus
memenuhi syarat bagi kesehatan baik ditinjau dari segi bangungan, drainase,
pengadaan air bersih, pentagonal sampah domestik uang dapat menimbulkan
penyakit infeksi dan ventilasi untuk pembangunan asap dapur.
Indonesia saat ini mengalami
transisi dapat terlihat dari perombakan struktur ekonomi menuju ekonomi
industri, pertambahan jumlah penduduk, urbanisasi yang meningkatkan jumlahnya,
maka berubahlah beberapa indikator kesehatan seperti penurunan angka kematian
ibu, meningkatnya angka harapan hidup ( 63 tahun ) dan status gizi. Jumlah
penduduk terus bertambah, cara bercocok tanam tradisional tidak lagi dapat
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Pertumbuhan Penduduk yang tidak merata
tersebut sangat berpengaruh dengan lingkungan, penduduk yang tinggal
dipemukiman yang sembarangan akan mengakibatkan lingkungan yang tidak bersih.
Lingkungan yang tidak dijaga akan mengakibatkan penyakit yang dapat mengacam
kesehatan manusia, misalnya penyakit yang diakibatkan oleh lingkungan adalah
Malaria, Muntaber, Penyakit Kulit, Tifus, dll. Seperti banjir, polusi air, dan
polusi udara adalah faktor yang mengakibatkan terjadinya penyakit, jika lama
kelamaan manusia tidak memperhatikan lingkunganya maka sangat besar peluang
penyakit menyebar, dalam hal ini kesadaran manusia sangat dibutuhkan, kita
diharapkan perlu adanya sosialisasi kepada penduduk tentang pemukiman yang
sehat dan adanya jaminan kesehatan bagi masyarakat luas dari pemerintah dan
pemerintah haruslah meningkatkan pendidikan kesehatan bagi masyarakat, dan yang
paling penting diperhatikan pemeintah adalah pelayanan kesehatan masyarakat
yaitu dengan menciptakan klinik disetiap pemukiman penduduk
Kekurangan gizi dan angka kematian
anak meningkat di sejumlah kawasan yang paling buruk di Asia dan Pasifik
kendati ada usaha internasional untuk menurunkan keadaan itu, kata sebuah
laporan badan kesehatan PBB hari Senin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan
bahwa sasaran kesehatan yang ditetapkan berdasarkan delapan Tujuan Pembangunan
Milenium PBB tahun 2000 tidak akan tercapai pada tahun 2015 berdasarkan
kecnderungan sekarang. “Sejauh ini bukti menunjukkan bahwa kendati ada beberapa
kemajuan, di banyak negara, khususnya yang paling miskin, tetap ketinggalan
dalam kesehatan,” kata Dirjen WHO Lee Jong Wook dalam laporan itu.Kendati
tujuan pertama mengurangi kelaparan, situasinya bahkan memburuk sementara
negara-negara miskin berjuang mengatatasi masalah pasokan pangan yang kronis,
kata data laporan itu.
Antara tahun 1990 dan 2002– data
yang paling akhir– jumlah orang yang kekurangan makanan meningkat 34 juta di
indonesia dan 15 juta di Surabaya dan 47 juta orang di Asia timur, kata laporan
tersebut. Proporsi anak berusia lima tahun ke bawah yang berat badannya terlalu
ringan di Surabaya, tenggara dan timur meningkat enam sampai sembilan persen
antara tahun 1990 dan 2003, sementara hampir tidak berubah (32 persen). Lebih
dari separuh anak-anak di Asia selatan kekurangan gizi, sementara rata-rata di
negara-negara berkembang tahun 2003 tetap sepertiga.“Meningkatnya pertambahan
penduduk dan produktivitas pertanian yang rendah merupakan alasan utama
kekurangan pangan di kawasan-kawasan ini,” kata laporan itu.Kelaparan cenderung
terpusat di daerah-daerah pedesaan di kalangan penduduk yang tidak memilki
tanah atau para petani yang memiliki kapling yang sempit untuk memenunhi
kebutuhan hidup mereka,” tambah dia.
Tidak ada satupun negara-negara
miskin dapat memenuhi tantangan mengurangi tingkat kematian anak. Kematian bayi
meningkat tajam di Surabaya antara tahun 1999 dan 2003, yang menurut data
terakhir yang diperoleh, dari 90 sampai 126 anak per 1.000 kelahiran hidup.
Juga terjadi peningkatan tajam dari 38 menjadi 87 per 1.000 kelahiran
hidup.“Untuk sebagian besar negara kemajuan dalam mengurangi kematian anak juga
akan berjalan lambat karena usaha-usaha mengurangi kekurangan gizi dan
mengatasi diare, radang paru-paru, penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dan
malaria tidak memadai,” kata laporan itu. Berdasarkan kecenderungan sekarang,
WHO memperkirakan pengurangan dalam angka kematian dikalangan anak berusia
dibawah lima tahun antara tahun 1990 dan 2015 akan menjadi sekitar seperempat,
kurang dari dua pertiga dari yang diusahakan.
Tingkat kematian ibu diperkirakan
akan menurun hanya di negara-negara yang telah memiliki tingkat kematian paling
rendah sementara sejumlah negara yang mengalami angka terburuk bahkan
sebaliknya. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dan angka kelahiran di
Indonesia, diperparah dengan pola penyebaran penduduk yang tidak merata.“Jika
semua itu, tidak segera dikendalikan, maka hal itu akan jadi beban buat kita
semua. Karena itu, baik pria maupun wanita harus memaksimalkan program KB. Untuk
mengurangi jumlah penduduk lapar tersebut, maka menurut Diouf diperlukan
peningkatan produksi dua kali lipat dari sekarang pada tahun 2050.Peningkatan
produksi ini khususnya perlu terjadi di negara berkembang, di mana terdapat
mayoritas penduduk miskin dan lapar.Jumlah penduduk dunia yang mengalami
kelaparan meningkat sekitar 50 juta jiwa selama tahun 2007 akibat dari kenaikan
harga pangan dan krisis energi.
Salah satu wabah penyakit yang
melanda negara-negara yang sedang berkembang ialah kemiskinan dan
keterbelakangan.Kemiskinan dan keterbelakangan adalah suatu penyakit, karena
dalam kenyataannya dua hal itu melemahkan fisik dan mental manusia yang
tentunya juga berdampak negative terhadap lingkungan. Kemiskinan dan keterbelakangan
begitu erat kaitannya satu sama lain sehingga dapat dianggap sebagai satu
pengertian, maka digunakan satu istilah saja, yaitu kemiskinan di mana sudah
terkait pengertian keterbelakangan.
Dampak kemiskinan terhadap
orang-orang miskin sendiri dan terhadap lingkungannya, baik lingkungan social
maupun lingkungan alam, dengan sendirinya sudah jelas negative.Orang miskin
tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi minimal bagi dirinya sendiri maupun bagi
keluarganya.Dampak kemiskinan terhadap lingkungan social tampakmengalirnya
penduduk ke kota-kota tanpa bekal pengetahuan apalagi bekal materi. Akibatnya
antara lain ialah banyaknya tukang becak, pemungut punting, gelandangan,
pengemis, dan sebagainnya yang menghuni kampung-kampung liar dan jorok di
gubuk-gubuk reot yang tidak pantas didiami manusia. Sebab-sebab kemiskinan yang
pokok bersumber dari empat hal, yaitu mentalitas si miskin itu sendiri,
minimnya ketrampilan yang dimilikinya, ketidakmampuannya untuk memanfaatkan
kesempatan-kesempatan yang disediakan, dan peningkatan jumlah penduduk yang
relatif berlebihan.
Kemiskinan dan keterbelakangan
merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif
dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan
evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah
mapan,dll. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahaman utamanya mencakup:
a.
Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan
sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti
ini dipsdfgeggahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan
dasar.
b. Gambaran tentang kebutuhan
sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk
berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan
informasi.Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal
ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi.
c.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna
"memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik
dan ekonomi di seluruh dunia.
Kartasasmita mengatakan bahwa
kemiskinan merupakan masalah dalam pembangunan yang ditandai dengan
pengangguran dan keterbelakangan, yang kemudian meningkat menjadi
ketimpangan.Masyarakat miskin pada umumnya lemah dalam kemampuan berusaha dan
terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga tertinggal jauh dari
masyarakat lainnya yang mempunyai potensi lebih tinggi.Hal tersebut senada
dengan yang dikatakan Friedmann yang mengatakan bahwa kemiskinan sebagai akibat
dari ketidak-samaan kesempatan untuk mengakumulasi basis kekuatan sosial.Namun
menurut Brendley, kemiskinan adalah ketidaksanggupan untuk mendapatkan
barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan
sosial yang terbatas.Hal ini diperkuat oleh Salim yang mengatakan bahwa
kemiskinan biasanya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memperoleh
kebutuhan hidup yang pokok.Sedangkan Lavitan mendefinisikan kemiskinan sebagai
kekurangan barang-barang dan pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu
standar hidup yang layak.
2. Ilmu
Teknologi dan Pengetahuan Lingkungan
A. Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan lingkungan yang berprinsip
“memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi
masa depan”. Pembangunan berkelanjutan adalah salah satu faktor yang harus
dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki
kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunanekonomi dan
keadilan sosial.Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada
isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup
tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan
perlindungan lingkungan. Menyebut ketiga hal dimensi tersebut saling terkait
dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan.Pembangunan Hijau
pada umumnya dibedakan dari pembangunan bekelanjutan, dimana pembangunan Hijau
lebih mengutamakan keberlanjutan lingkungan di atas pertimbangan ekonomi dan
budaya. Pendukung Pembangunan Berkelanjutan berargumen bahwa konsep ini
menyediakan konteks bagi keberlanjutan menyeluruh dimana pemikiran mutakhir
dari Pembangunan Hijau sulit diwujudkan. Sebagai contoh, pembangunan pabrik dengan
teknologi pengolahan limbah mutakhir yang membutuhkan biaya perawatan tinggi
sulit untuk dapat berkelanjutan di wilayah dengan sumber daya keuangan yang
terbatas.Keberadaan sumberdaya alam, air,tanah dan sumberdaya yang lain
menentukan aktivitas manusia sehari-hari.
Kita tidak dapat hidup tanpa udara dan air. Sebaliknya ada pula
aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi keberadaan sumberdaya dan lingkungan
di sekitarnya. Kerusakan sumberdaya alam banyak ditentukan oleh aktivitas
manusia. Banyak contoh kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia seperti pencemaran udara, pencemaran air,
pencemaran tanah serta kerusakan hutan yang kesemuanya tidak terlepas dari
aktivitas manusia, yang pada akhirnya akan merugikan manusia itu sendiri.
Pembangunan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
tidak dapat terhindarkan dari penggunaan sumberdaya alam. Namun eksploitasi
sumberdaya alam yang tidak mengindahkan kemampuan dan daya dukung lingkungan mengakibatkan
merosotnya kualitas lingkungan.Di Indonesia , kontribusi yang menjadi andalan
dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi dan sumber devisa serta modal pembangunan
adalah dari sumberdaya alam. “Sumberdaya alam mempunyai peranan penting dalam
perekonomian Indonesia baik pada masa lalu, saat ini maupun masa mendatang
sehingga, dalam penerapannya harus memperhatikan apa yang telah disepakati
dunia internasional.
B. Mutu Lingkungan Hidup
dengan Resiko Secara sederhana kualitas lingkungan hidup diartikan sebagai
keadaanlingkungan yang dapat memberikan daya dukung yang optimal bagi
kelangsungan hidup manusia di suatu wilayah. Kualitas lingkungan itu dicirikan
antara lain dari suasana yang membuat orang betah/kerasan tinggal ditempatnya
sendiri. Berbagai keperluan hidup terpenuhi dari kebutuhan dasar/fisik seperti
makan minum, perumahan sampai kebutuhan rohani/spiritual seperti pendidikan,
rasa aman, ibadah dan sebagainya.Secara alami, kehidupan ini memang merupakan
hubungan yang terjadi timbal balik antara sumber daya manusia dan sumber daya
alam (baik yang dapat diperbaharui atau pun tidak). Hubungan timbal balik
tersebut pada akhirnya adalah penentu laju pembangunan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi dan menentukan perkembangan pembangunan adalah lingkungan sosial
(jumlah, kepadatan, persebaran, dan kualitas penduduk), dan pengaruh kehidupan
sosial budaya, ekonomi, politik, teknologi, dan sebagainya.
Kualitas lingkungan hidup dibedakan berdasarkan biofisik, sosial
ekonomi, dan budaya yaitu:
a.Lingkungan biofisik adalah lingkunganyang terdiri dari komponen
biotik dan abiotik yang berhubungan dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Komponen biotik merupakan makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan dan manusia,
sedangkan komponen abiotik terdiri dari benda-benda mati seperti tanah, air,
udara, cahaya matahari. Kualitas lingkungan biofisik dikatakan baik jika
interaksi antar komponen berlangsung seimbang.
b.Lingkungan sosial ekonomi, adalah lingkungan manusia dalam
hubungan dengan sesamanya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Standar kualitas
lingkungan sosial ekonomi dikatakan baik jika kehidupan manusia cukup sandang,
pangan, papan, pendidikan dan kebutuhan lainnya.
c.Lingkungan budaya adalah segala kondisi, baik berupa materi
(benda) maupunnonmateri yang dihasilkan oleh manusia melalui aktifitas dan
kreatifitasnya. Lingkungan budaya dapat berupa bangunan,peralatan, pakaian,
senjata. Dan juga termasuk non materi seperti tata nilai, norma, adat istiadat,
kesenian, sistem politik dan sebagainya. Standar kualitas lingkungan diartikan
baik jika di lingkungan tersebut dapat memberikan rasa aman, sejahtera bagi
semua anggota masyarakatnya dalam menjalankan dan mengembangkan sistem
budayanya.Pasal 28H Undang-Undang Dasar Tahun 1945 mengamanatkan bahwa
lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga negara
Indonesia. Artinya bahwa menjaga lingkungan hidup agar tetap baik dan sehat
adalah sebuah kewajiban karena merupakan bagian dari hak asasi setiap warga
negara Indonesia.
C. Kesadaran
LingkunganNeolaka (1991), menyatakan bahwa kesadaran lingkungan adalah keadaan
tergugahnya jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini lingkungan hidup, dan dapat
terlihat pada prilaku dan tindakan masing-masing individu. Hussel yang dikutip Brawer (1986), menyatakan
bahwa kesadaran adalah pikiran sadar (pengetahuan) yang mengatur akal, hidup
wujud yang sadar, bagian dari sikap/prilaku,yang dilukiskan sebagai gejala
dalam alam dan harus dijelaskan berdasarkan prinsip sebab musebab. Tindakan
sebab, pikiran inilah menggugah jiwa untuk membuat pilihan, misalnya memilih
baik-buruk, indah-jelek.Buletin Para Navigator (1988), menyatakan bahwa
kesadaran adalah modal utama bagisetiap orang yang ingin maju. Secara garis
besar sadar itu dapat diukur dari beberapa aspek antara lain:a. kemampuan membuka mata dan menafsirkan
apa yang dilihatb. kemampuan
aktivitasc. kemampuan berbicara.
D. Hubungan Lingkungan
dengan PembangunanPeningkatan usaha pembangungn, maka akan terjadi pula
peningkatan penggunaan sumber daya untk menyokong pembangunan dan timbulnya
permasalahan-permasalahan dalam lingkungan hidup manusia.Dalam pembangunan,
sumber alam merupakan kompnen yan penting karena sumber alam ini memberikan
kebutuhan asasi bagi kehidupan. Dalam penggunaan sumebr alam tadi, hendaknya keseimbangan
ekosistem proyek pembangunan, keseimbangan ini bisa terganggu, yang
kadang-kadang bisa membahayakan kehidupan umat.
Harus dicari jalan keluar yang saling menguntungkan dalam hubungan
timbal balik antara proses pembangunan, penggalian sumber daya, dan masala
pengotoran atau perusakan lingkungan hidup manusia. Sebab pada umumnya, proses
pembangunan mempunyai akibat-akibat yang lebih luas terhadap lingkungan hidup
manusia, baik akibat langsung maupun akibat sampingan seperti pengurangan
sumber kekayaan alam secara kuantitatif & kualitatif, pencemaran biologis,
pencemaran kimiawi, gangguan fisik dan gangguan sosial budaya.Kerugian-kerugian
dan perubahan-perbahan terhadap lingkungan perlu diperhitungkan, dengan
keuntungan yang diperkirakan akan diperoleh dari suatu proyek pembangunan.
Itulah sebabnya dala setiap usaha pembangunan, ongkos-ongkos sosial untuk
menjaga kelestarian lingkungan perlu diperhitungkan, sedapat mungkin tidak
memberatkan kepentingan umum masyarakat sebagai konsumen hasil pembangunan
tersebut.Jika seseorang mampu melakukanketiga aspek diatas secara terintegrasi
maka dialah yang disebut dengan sadar. Dari segi lain kesadaran adalah adanya
hak dan kemapuan kita untuk menolak melakukan keinginan orang lain atau sesuatu
yang diketahui buruk/tidak bermanfaat bagi dirinya.Daniel Chiras (Neolaka;2008)
menyatakan bahwa dasar penyebab kesadaran lingkungan adalah etika lingkungan.
Etika lingkungan yang sampai saat ini berlaku adalah etika lingkungan yang
didasarkan pada sistem nilai yang mendudukkan manusia bukan bagian dari alam,
tetapi manusia sebagai penakluk dan pengatur alam. Didalam pendidikan
lingkungan hidup, konsep mental tentang manusia sebagai penakluk alam perlu
diubah menjadi manusia sebagai bagian dari alam.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai anggota masyarakat
yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, misalnya dengan membuang
sampah seenaknya di jalanan, atau meletakkan sampah di pinggir jalan seolah
bukan miliknya lagi.Banyak yang tidak menyadari bahwa pola kehidupan modern
saat ini sangat mempengaruhi lingkungan dan kondisi bumi secara keseluruhan.
Kemakmuran yang semakin tinggi telah memberikan fasilitas hidup semakin mudah melalui
perkembangan teknologi. Akibatnya penggunaan listrik terutama untuk keperluan rumah
tangga menjadi sangat besar dan terus menerus seperti lemari es, mesin cuci,
komputer, AC, audio dan sebagainya. Sedangkan kebiasaan shoppingatau memborong
belanjaan menyebabkan bertumpuknya sampah kantong plastik, piring, cangkir atau
botol plastik, dan sebagainya.
E. Pencemaran dan Perusakan
Lingkungan Hidup Oleh Pembangunan Sebagaimana diarahkan dalam GBHN Tahun 1988,
pembangunan industri merupakan bagian dari pembangunan ekonomi jangka panjang
untuk mencapai stucture ekonomi yang semakin seimbang dari sektor industri yang
maju dan didukungoleh sektor pertanian yang tangguh. Selanjutnya digariskan
pula bahwa proses industrialisasi harus mampu mendorong berkembangnya industri
sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja baru, sumber
peningkatan ekspor dan penghematan devisa, penunjang pembangunan daera,
penunjang pembangunan sektor-sektor lainnya sekaligus wahana pengembangan dan
penguasaan teknologi.Industrialisasi merupakan pilihan bagi bangsa Indonesia
untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupannya. Hal terseut antara lain
disebabkan terbatasnya lahan pertanian. Industrialisasi merupakan suatu jawaban
terhindarnyan tekanan penduduk terhadap lahan pertanian. Yang perlu mendapatkan
perhatian ialah bahwa industri merupakan salah satu sektor pembangunan yang
sangat potensial untuk merusak dan mencemari lingkunga . apabila hal ini tidak
dapat perhatian serius maka ada kesan bahwa antara industri dan lingkungan
hidup tidak berjalan seiring, dalam arti semakin maju industri maka semakin
rusak lingkungan hidup itu.Industri yang menggunakan teknologi untuk
meningkatkan taraf hidup manusia akan memberikan dampak negatif pula berupa
pencemaran dan kerusakan lingkungan. Unsur – unsur pokok yang diperlukan untuk
kegiatan industri antara lain adalah sumber daya alam ( berupa bahan baku,
energi dan air), sumberdaya manusia ( berupa tenaga kerja peda berbagai
tingkatan pendidikan), serta peralatan.Kegiatan pembangunan industri yang
melibatkan unsur – unsur tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yang berupa:
a.Pandangan yang kurang menyenangkan bagi wilayah industri.
b.Penurunan niali tanah di sekitar industri bagi permukiman.
c.Timbul kebisingan oleh operasi peralatan.
d.Bahan–bahan buangan yang dikeluarkan oleh industri dapat
menggangu dan mengotori udara, air, dan tanah.
e.Perpindahan penduduk yang menimbulkan dampak sosial.
f.Hasil produksi industri dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat.
g.Timbulnya kecemburuan sosial.
BAB III
PENUTUP
Negara Indonesia merupakan negara
yang besar dan beraneka ragam etnis serta budaya.Kemajuan negara sesungguhnya
tergantung kepada tingkat pendidikan di Negara tersebut, kualitas serta mutu
pendidikan yang tingi dapat menjadi jaminan untuk kemajuan dan kesejahteraan
negara.Di tengah pertambahan jumlah penduduk yang semakin tidak terkontrol
membuat peningkatan kualitas di dunia pendidikan merupakan pilihan yang harus
dikedepankan. Perombakan sistem ketransmigrasian juga akan mendukung pemerataan
penduduk. Jadi, peningkatan kualitas Pendidikan dan keefektifan pola
transmigrasi dapat memperbaiki kuterpurukan dalam mengurus kepadatan penduduk
yang semakin hari kian membludak.Oleh karena pertumbuhan penduduk
dipengaruhi Tingkat pendidikan, Penyakit
yang Berkaitan dengan Lingkungan Hidup, Kelaparan, Kemiskinan dan Keterbelakangan.
Maka kita harus bisa memperbaiki semua masalah itu,dan mulai mencari jalan
keluar yang terbaik agar semua permasalahan dinegara kita bia terselesaikan.Dan
masyarakatnya pun bisa hidup dengan sejahtera, karena tidak dipungkiri bahwa
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam.
Daftar Pustaka
http://alfanissa.blogspot.co.id/2014/04/tingkat-pertumbuhan-penduduk-yang.html
http://kandiwa.blogspot.co.id/2010/10/perkembangan-penduduk-di-negara.html
https://tieraalta.wordpress.com/2013/05/24/laju-pertumbuhan-penduduk/
